Thread Rating:
  • 0 Vote(s) - 0 Average
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
[NGENES] TAK MAMPU SEWA AMBULANS, PEMULUNG MENGGENDONG MAYAT ANAKNYA
kyeh, ana berita sing nggawe miris nemen , ngenes lah pokoke.. merkabak
baca bae ndisit..


Quote:
[Nasional, Gatra Nomor 31 Beredar Senin, 13 Juni 2005]


BERSIMBAH peluh Supriono mendorong gerobak dari Manggarai ke Stasiun Tebet, Jakarta. Hanya satu tekad, menguburkan anaknya secara layak. Gerobak yang biasanya digunakan untuk memulung itu berubah fungsi jadi kendaraan pengangkut mayat. Murizki Saleh, 6 tahun, anak sulungnya menguntit.

Tiba di stasiun, persoalan bukannya beres. Pemulung kelahiran Solok, Sumatera Barat, 38 tahun yang lalu, itu menggendong jasad Nur Khoirun Nisa, 3 tahun 2 bulan, putrinya. Kepalanya ditutupi kaus putih agar tidak mengundang curiga. Toh, kaki mungil kaku dan pucat yang menyembul dari balik sarung kumal mengundang wasangka. Ketika seorang pedagang teh botol bertanya, dengan polos Supriono menjelaskan bahwa anaknya telah meninggal.

Stasiun Tebet pun geger, Ahad pekan lalu. Bukannya mendapat simpati, bapak beranak dua itu malah digelandang ke kantor polisi. Niat Supriono memakamkan si kecil di Kampung Kramat, Bogor, dengan menggunakan jasa kereta rel listrik Jabotabek pun terhambat. Kini dia harus berurusan dengan aparat Polsek Tebet.

Kepada petugas, Supriono mengatakan bahwa anaknya meninggal karena muntaber. Toh, polisi tidak percaya begitu saja. Dan memaksa Supriono membawa jenazah itu ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) untuk diotopsi. Urusan bertambah panjang.

Kepada petugas di RSCM, Supriono kembali menjelaskan apa yang menimpa putrinya. Nisa empat hari terserang muntaber. "Dia tidak bisa makan," katanya. Semua yang dia makan dimuntahkan lagi. Badannya semakin lemah karena dia tidak bisa makan berhari-hari. Supriono telah membawa Nisa berobat ke Puskesmas Kecamatan Setiabudi. Ia hanya sekali mengobatkan, karena tidak punya duit. Meskipun biayanya cuma Rp 4.000, itu cukup besar bagi Supriono.

"Saya hanya pemulung kardus, gelas, dan botol plastik," katanya pilu. Penghasilannya hanya Rp 10.000 hingga Rp 12.000 per hari. Bapak yang telah bercerai dengan istrinya, Turiyem, itu mengaku tinggal dalam gerobak di Megaria, Cikini, Jakarta Pusat. Dua anak hasil pernikahannya ikut Supriono. Ia biasa memberi makan nasi bungkus, tiga kali sehari. "Kadang dua kali sehari," ujarnya.

Supriono pasrah dan berharap Nisa sembuh sendiri. Tidak kuasa melawan muntaber, Nisa meninggal. Supriono mendapati anaknya pucat pasi pada Ahad pagi. Dia pun kalut, karena duit tinggal 6.000 perak. Jauh dari cukup untuk membeli kafan, apalagi untuk sewa ambulans. Sementara Nisa "lelap" dalam gerobak.

Setelah berurusan dengan polisi, dari gerobak jasad Nisa berpindah ke atas bangsal di RSCM. Supriono hanya bisa nelangsa mengelus dada. Ketika ngotot minta mayat anaknya, dia mesti menunggu surat permintaan pulang dari rumah sakit. Untuk membunuh waktu, Supriono hanya bisa memandangi tubuh beku anaknya.

Murizki mengajak Nisa bercanda dan bermain. Dia belum mengerti bahwa adiknya telah tiada. Tubuh dingin adiknya sesekali dipeganginya. Pukul 16.00, akhirnya petugas RSCM mengeluarkan surat yang dinanti Supriono.

Karena tidak memiliki uang untuk sewa ambulans, Supriono lagi-lagi harus berjalan kaki. Sambil menggendong mayat, dia keluar dari RSCM. Murizki mengiringi, meretas jalan panjang hendak ke Bogor. Sejenak kemudian terlintas di benak Supriono seorang kenalan lamanya, Sri Suwarni, 41 tahun, yang tinggal di rumah-rumah kayu di Manggarai Utara. Supriono mengenal Sri pada 2003, saat dia menyewa rumah kontrakan milik Sri selama sebulan.

Dia pun menyetop bajaj untuk mengantar ke rumah Sri. Senja sudah membekap Ibu Kota ketika ayah beranak dua itu tiba. Dia membayar Rp 5.000 dari uang Rp 6.000 miliknya. Sri yang melihat jasad Nisa langsung terduduk lemas. "Kaki saya gemetar dan saya tak kuasa menahan tangis," kata ibu yang sehari-hari berjualan gorengan itu.

Karena sudah malam, jenazah Nisa disemayamkan dulu di rumah Sri. Esoknya, Nisa dimakamkan di Menteng Pulo. Biaya pemakaman ditanggung dari hasil patungan 44 kepala keluarga tetangga Sri. Terkumpul duit Rp 700.000 untuk biaya pemakaman. Sementara Supriono dan Murizki boleh tinggal di salah satu ruang kontrakan milik Sri, seluas 3 meter persegi.

Kini Supriono merasa lebih nyaman dan tenang. Bantuan mengalir padanya. Rencananya, uang yang ada akan digunakan Supriono untuk menyekolahkan Murizki. Juga memulai usaha. "Saya mau berdagang, tapi belum tahu berdagang apa," katanya. Supriono tidak tahu apakah Turiyem, yang sekarang tinggal di Solok, sudah tahu ihwal kematian anaknya. "Kami sudah putus kontak sama sekali," ucapnya.

Wardah Hafidz, Koordinator Urban Poor Consortium, mengatakan bahwa pemerintah perlu mengambil tindakan kongkret menangani kemiskinan dan masalah yang dihadapi rakyat miskin kota. Pemerintah harus meningkatkan anggaran. Sehingga kampung-kampung kumuh bisa dipoles, tanah-tanah mereka diberi sertifikat, juga biaya kesehatan dan pendidikan ditingkatkan. Seperti warga negara lain, kaum fakir juga harus dipenuhi hak dasarnya.

Menurut dia, masyarakat miskin kota selama ini hanya dijadikan komoditas politik. Mereka sering dimobilisasi untuk demonstrasi. Atau bahkan diorder untuk tindak kekerasan dengan bayaran murah, Rp 25.000 hingga Rp 50.000.

Yang memedulikan mereka hanya lembaga sosial. Umumnya lembaga itu memfokuskan pada dua tindakan. "Pertama, memenuhi kebutuhan praktis, sehingga kesejahteraan mereka meningkat," katanya. Misalnya, kegiatan peningkatan pendapatan, tabungan, kesehatan, dan pendidikan.

Kedua, menumbuhkan kesadaran kritis dan politis mereka, seperti memfasilitasi agar mereka kuat berorganisasi dan mudah mengakses informasi. Sehingga bisa berpartisipasi aktif dalam pengambilan keputusan publik menyangkut hidup dan kehidupan mereka. "Kedua fokus itu mesti dilakukan secara bersamaan," ujarnya.

Berkait dengan tragedi gendong mayat itu, menurut Wardah, dana berbagai organisasi sosial sebaiknya tidak diberikan secara karitatif karena menimbulkan ketergantungan. "Bantuan untuk Supriono bisa dengan menyewakan ambulans dan menguburkan anaknya," katanya.

Rohmat Haryadi dan Dessy Eresina Pinem
[Nasional, Gatra Nomor 31 Beredar Senin, 13 Juni 2005]

ilustrasi

[Image: nwsrotvs.jpg?w=300&h=225]



tapi jarene ana Sanggahan / klarifikasi dari Pihak RSCM


Quote:Surat dari RSCM

[Image: 13086633832115741711.jpg]

Malam ini (21/6/2011), Kompasiana menerima surat dari Dirut RSUP Nasional RSCM. Surat klarifikasi Jenazah a/n Hairunnisah, begitu hal yang tercantum pada isi surat tersebut.

Beberapa hari lalu, tepatnya tanggal 18 Juni 2011, ada sebuah postingan berjudul “Tragis, Menggendong Jenasah Anak Dari RSCM Sampai Bogor Karena Tak Mampu Bayar Ambulance” di Kompasiana yang diposting atas nama akun Jhonwilli. Isi postingan itu bercerita tentang kisah seorang bapak yang menggendong jenazah anaknya sampai ke rumahnya karena tidak memiliki uang untuk sewa ambulan. Postingan tersebut menjadi heboh ketika tersebar dalam jejaring media sosial seperti Twitter dan melalangbuana lewat layanan Blackberry Messenger.

Berikut isi surat tersebut:

Nomor : 10926/TU.S/02/VI/2011 Lampiran
Hal : Klarifikasi Jenazah a/n Hairunnisah

Yth. Managing Director Kompasiana PT. Kompas Cyber Media

Gedung Kompas Gramedia, Unit II Lt. 5 Jl. Palmerah Selatan No. 22 - 28 Jakarta 10270, Indonesia.

Dengan hormat,

Menanggapi berita yang dimuat dalam Kompasiana tertanggal 18 Juni 2011 pukul 19:17 WIB dengan judul “Tragis, Menggendong Jenazah Anak dari RSCM sampai Bogor Karena Tak Mampu Bayar Ambulance” (oleh John Willi), dengan ini kami sampaikan bahwa

1. Kejadian seorang Bapak (Supriono) pemulung yang menggendong jenazah anak Nur Hairunrusah umur 3 tahun yang dalam pemberitaan mengesankan bahwa hal itu baru saja terjadi, sebenarnya kejadian tersebut terjadi pada tanggal 5 Juni 2005, pukul 15:20, bukan tahun 2011. Dari data arsip jenazah RSCM tidak melakukan otopsi karena keluarga menolak dan dibawa pulang pada pukul 15:40 WIB.

2. Merujuk pada tata tertib Kompasiana pada Definisi Umum point 5 yang menyatakan bahwa “Admin berhak untuk tidak menayangkan (unpublish) atau menghapus konten yang telah ditempatkan dan atau ditayangkan di Kompasiana. Admin juga memiliki kewenangan untuk memberi peringatan, menutup, memblokir dan atau menghapus akun di Kompasiana.” Seharusnya hal mil tidak terjadi, apabila terlebih dahulu dilakukan konfirmasi dengan pihak RSCM.

3. Berdasarkan point 2 di atas, karena RSCM sebagai Public Service maka pemberitaan tersebut mengakibatkan citra RSCM menjadi kurang balk di mata masyarakat terlebih dengan telah diterbit ulangkan di blog yang lain. Oleh karena itu, kami harap saudara segera meluruskan pemberitaan dan merehabilitasi nama baik RSCM.




Terlampir copy surat pernyataan menolak untuk diotopsi. Demikian agar menjadi maklum.


Atas perhatiannya kami haturkan terima kasih.


Ditrektur utama,

Prof. Dr. dr. Akmal Taher, SpU-K
NIP 195507271980101001



—

Dengan ini, kami selaku admin Kompasiana menyatakan bahwa postingan tersebut telah kami tarik dari edaran karena melanggar ketentuan Kompasiana yakni menyalin, menayangkan-ulang atau meneruskan sebagian atau seluruh tulisan, komentar dan atau berita milik orang atau pihak lain tanpa maksud membuat tulisan atau berita baru yang dapat dipertanggungjawabkan dan dapat disebut sebagai konten miliknya. (Syarat dan Ketentuan Kompasiana No. 8 (d))

Sekedar tambahan infomasi, bahwa tiap konten tulisan yang diposting di Kompasiana merupakan tanggungjawab pemilik akun. Dan dengan ini menyatakan bahwa konten tersebut ditempatkan dan atau ditayangkan atas kesadaran dan kemauan sendiri. (Syarat dan Ketentuan Kompasiana No. 7)

Kami juga telah menjelaskan dan memberitakan hal ini kepada publik melalui KOMPAS.com. (LIHAT)

Demikian respon kami selaku admin Kompasiana.

Terima kasih atas perhatiannya.




kyeh emang sbenere berita lawas.. tapi tetep bae smoga bisa mengetuk hati kita smua, khususnya Aparat Pemerintahan Indonesia Es Teh
Reply
aku terketuk nih

tuk tik tak tik tuk tik tak tik tuk
road to
6666th
Reply
Subahanallah,kwe tah bener2 nggrentes nemen.kang !
kazrib,ngarasa bangga dadi member Forume Wong Tegal lan Sekitare sejak Oct 2011.
Reply
merkabak merkabak merkabak merkabak merkabak merkabak merkabak merkabak merkabak merkabak merkabak
TEGAL
Reply
Aparat Pemerintahe lg sibuk meeting... melasi nemen yak...

merkabak
Kamu tak perlu memiliki segalanya untuk bahagia, karena yang kamu butuh hanya seseorang yang mampu buatmu tersenyum disaat terluka.
Reply
enyong pernah posting kye ng kene, http://tegalcyber.org/showthread.php?tid=8634
wis 8 wulan Nyengir

"Orang sukses adalah orang yang dapat menghasilkan uang lebih banyak daripada yang istrinya habiskan"
pesbuke enyong
Reply


Forum Jump:


Users browsing this thread: