Thread Rating:
  • 0 Vote(s) - 0 Average
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
PSSI ala nyaris (aja bangga ndisit len)
Quote:sumber detiksport.com

Jakarta - Kualifikasi Piala Asia U-19 usai sudah. Tim nasional Indonesia yang sepenuhnya diisi para pemain yang berlatih di Uruguay selama dua tahun hanya bisa menempati peringkat ketiga dan gagal lolos ke putaran final. Tak lama sesudah itu, tim nasional senior gagal lolos ke Piala Asia, kegagalan ini juga diimbuhi permainan buruk dan sarat tackling-tackling kasar yang kadang memalukan.

Reaksi terhadap dua kegagalan tim nasional itu beragam. Untuk tim nasional senior, umumnya publik merasa itu sebagai sesuatu yang wajar. Permainan yang minim kreativitas, stamina yang tak ajeg, dan emosi yang tak terkendali menjadi faktor minus yang banyak membuat sebal. Berkali-kali pemain Indonesia melakukan tackling yang bukan hanya kasar, tapi juga tak penting. Menggemaskan, memang, menyaksikan pemain sekelas Ismed Sofyan atau Ponaryo Astaman melakukan tackling kasar di areal yang justru tak berbahaya.

Simaklah bagaimana Ismed, salah satu pemain paling senior di tim nasional, merefleksikan pelanggaran yang dibuatnya pada Piala Asia itu. Pada 28 November 2008, menjelang Piala AFF, kepada sebuah situs berita Ismed mengucapkan kalimat ini: "Yang saya lakukan di Piala Asia sebenarnya tidak terlalu fatal."

Lihatlah bagaimana seorang Ismed bahkan tak tahu betapa fatalnya pelanggaran yang pernah dia lakukan. Jika pelanggaran seperti itu pun dengan mudahnya dianggap enteng, tak perlu diherankan juga jika Ismed (lagi-lagi) melakukan kesalahan fatal yang merugikan tim.

Ismed, bagi saya, adalah cermin paling sempurna dari ketidakmampuan manajemen sepakbola Indonesia belajar dari masa lalu dan dari kesalahan-kesalahan yang pernah dibikin. Di situ, Ismed adalah simbol paling kontemporer betapa sepakbola Indonesia memang mengidap rabun dekat dan rabun jauh sekaligus: kesalahan terbaru dan kesalahan yang sudah jauh sama-sama tak pernah diingat dan digunakan sebagai bahan introspeksi.

Di level itu pulalah, barangkali, penyikapan terhadap tim nasional U-19, yang juga gagal lolos ke Piala Asia U-19, sebaiknya diposisikan.

Berbeda dengan penyikapan terhadap kegagalan tim nasional senior saat menghadapi Kuwait, Syamsir Alam, dkk., dianggap oleh banyak kalangan sudah memberi penampilan yang tidak mengecewakan.

Kekalahan telak oleh Jepang dan kekalahan tipis oleh Singapura tampaknya agak "dilupakan" berkat kemenangan atas Taiwan dan Hong Kong serta hasil seri saat berhadapan dengan tim kuat Australia. Penampilan elegan Syamsir Alam, kelincahan Alan Martha, kecepatan Abdul Rahman Lestaluhu, atau dribling Yericho Kristiantoko dianggap cukup menjanjikan.

Saya bisa memahami komentar-komentar positif macam itu, terlebih melihat permainan tim abal-abal tim nasional senior, atau performa tim nasional U-23 yang dipersiapkan menghadapi SEA Games di Laos pekan lalu juga kalah dari Malaysia dalam laga uji coba yang keras dan ricuh.

Tiga penampilan terakhir Syamsir Alam, dkk., dirasa sebagai sehembus angin segar di tengah berita-berita tak enak mengenai penampilan tim nasional senior. Harapan, tentu saja, amat penting. Tapi, saya khawatir, kita terlalu permisif dan longar dalam menyikapi perkembangan sepakbola Indonesia.

Dari masa ke masa, kita terlalu mudah berharap, terlalu gampang berbangga hati. Masih saja beredar "kebanggaan kecil" bisa menahan Uni Soviet 0-0 di laga pertama Olimpiade 1956, padahal di laga berikutnya Indonesia keok 0-4. Juga pretasi menahan seri Korea Selatan pada final grup II Asia di Senayan pada Pra-Olimpade 1976 kendati kemudian kalah di adu penalti.

Masih jelas juga ingatan bagaimana kita dengan mudah berbesar hati saat tim nasional U-19 yang berlatih di Italia (PSSI Primavera) "hanya" kalah 1-2 dan 0-1 oleh Korea Selatan pada ajang pra-Olimpiade 1996. Mengalahkan Bahrain dan hanya kalah tipis dari Korea Selatan dan Arab Saudi pada Piala Asia 2007 silam pun sudah membanggakan, padahal Indonesia gagal lolos ke putaran berikutnya dengan status sebagai tuan rumah.

Memang betul, Korea Selatan, Jepang atau Australia levelnya masih ada di atas Indonesia. Tak salah juga menyebut Syamsir Alam, dkk., masih punya masa depan, seperti halnya publik juga dulu pernah berkata demikian pada pemain tim nasional "Primavera" macam Kurniawan, Bima Sakti, Aples Tecuari sampai Kurnia Sandi.

bersambung ....

Quote:Media massa juga kadang ikut-ikutan latah. Kurniawan "cuma" bermain di Lucerne B saja sudah diliput besar-besaran. Kurnia Sandi "hanya" berlatih di Sampdoria pun ditulis banyak, sampai-sampai pernah sebuah tabloid olahraga terbesar di Indonesia merasa perlu meliput momen di mana Kurnia Sandi kemungkinan --baru kemungkinan-- masuk ke daftar pemain cadangan Sampdoria gara-gara kiper kedua dan ketiga Sampdoria didera cedera.

Yang terbaru, komentator televisi saat laga terakhir Syamsir Alam, dkk., berkali-kali mengutip ucapan pelatih tim nasional U-19 dari Uruguay, Cesar Paylovich, yang mengabarkan beberapa klub Uruguay tertarik dengan bakat Yericho yang katanya mirip Roberto Carlos. Dimirip-miripkan ini juga kelatahan yang dulu amat sering diucapkan presenter siaran langsung Liga Indonesia atau Tim Nasional. Firmansyah disebut sebagai "Rio Ferdinand-nya Indonesia" atau Elli Aiboy pernah saya dengar dari komentator televisi sebagai "Thiery Henry-nya Indonesia".

Saya tidak sedang mengabaikan apa yang disebut sebagai "proses" dan serta merta menuntut hasil gemilang secara instan. Justru karena mementingkan proses itulah maka berharap datangnya prestasi secara instan dengan mengirimkan anak-anak muda berbakat untuk berlaga di kompetisi yunior di luar negeri harus terus menerus dikritisi.

Sejak era kepemimpinan Ali Sadikin, Kardono, Azwar Anas hingga sekarang dipimpin "bos besar" Nurdin Halid, PSSI tak pernah bosan mengirimkan tim nasional untuk berlatih di luar negeri. Dari mulai PSSI Garuda, Pratama, Binatama, Primavera, Baretti sampai yang terakhir PSSI SAD di Uruguay. Semua proyek itu hasilnya sama: serba nyaris.

Terus berbesar dan berbangga hati karena deretan prestasi yang hanya serba "nyaris": nyaris lolos ke Olimpiade, nyaris menang atas Australia atau Korea Selatan dll membuat PSSI kehilangan momentum untuk menyadari kesalahan dan kegagalan.

Saya sangat menghormati perjuangan Syamsir Alam atau Alan Martha, seperti juga saya menghormati kerja keras Bima Sakti, Aples Tecuari atau Kurniawan Dwi Julianto yang bisa mengimbangi dan (hanya) kalah tipis dari Korea Selatan pada 1994. Justru karena kita menghormati jerih payah merekalah kita selayaknya tidak terlalu berharap, berbesar hati atau berbangga hati.

Carut marut dan beban sejarah sepakbola Indonesia terlampau berat untuk dipikul oleh remaja-remaja berbakat seperti mereka. Kadang, saya merasa, "kita" terlalu memberi beban yang tak semestinya pada tulang mereka yang masih ringkih itu.

Oya, kata "kita" di atas sebaiknya diganti dengan kata PSSI. Boleh kok diucapkan dengan keras-keras. Itu malah dianjurkan, kendati saya tak yakin teriakan keras dengan toa sekali pun masih bisa didengar "bos besar" Nurdin Halid, yang pada 17 November kemarin merayakan ulang tahunnya yang ke-51.

Penampilan tim nasional senior menghadapi Kuwait adalah kado yang mau tak mau harus diterima oleh Nurdin. Entahlah apa itu kado yang manis atau pahit. Mungkin Nurdin juga tak bisa membedakan, toh ia juga tak tahu bedanya kegagalan dan keberhasilan.

awit piyik anjog saiki, kayonge timnas indonesia tambah ra beres,

sebagai pecinta sepakbola, aku ora pan kakean ngoment ah, wis saate bertindak, mencari pengalaman, ...

males ngresula wong2 tua, toh ngresulane aku ya ora bakal dibaca karo wonge ... Ngantuk
"Jadilah Role-Model yang baik untuk adik, anak, dan lingkungan sekitar."
Reply
#2
hahaha esih nyimak bae bal2an Indonesia kang Ngikik
dih nyonk tah babar blas ora seneng maring bal2ane dewek....bayangna bae lah, sekabehe sistem neng njerone wis kangelan diatur, ora bisa dibanggakna.... mulai skang pengurus besar-e ngurus skang penjara, anggotane ana sing mateni bojone,, sampe kerusuhan antar suporter, apamning masalh njotosi wasit kayong enak nemen kaya njotosi wit gedang Ngikik

wis mbuh bae kwe pan kayong apa ndelen bakale, tambah ancur maning apa ora Mbayangna
wis pada krungu oya taun 2022 Indonesia pan nyalon dadi tuan rumah piala dunia??? kiye maksude piben ya PD nemen nyalon tuan rumah hajatane sedunia, paling nembe berasil dadi tuan rumah Piala Asia bae kayong gumede, kwe baen ana 4 negara sing dadi tuan rumah, menurute nyonk sih kwe wacana pan nyalon dadi tuan rumah Piala Dunia kayong ngimpi mbuh nglindur kwe penguruse, apa stress ora tau bisa mlebu kualifikasi PD yak? Guling-Guling

mbuh bae lah kemruyek ngrungokna suporter rusuh Ngepruk
.:: my heart just for one girl ::.
MOZZERO PENYERAP TAR DAN NIKOTIN
Reply
#3
ya, jare aku sih kudu ditonton juga sepakbola indonesia. analogine ya pada karo tegal sing dewek urus kang/yu. jaba dewek tetep maidoni bae, pandangane pesimis, ya tegal bakal kaya kiye bae. malah luwih rusak mengkone.
jaba dudu dewek, sapa maning lhen sing pan mbangun Tegal??

Akhda Afif Rasyidi
Blog: http://akhdaafif.com
Email: mail[at]akhdaafif.com
Reply
kapan ya Indonesia bisa lolos Piala Dunia???

Rambo
road to
6666th
Reply
(17-03-2010, 08:50 PM)akhdaafif Wrote: ya, jare aku sih kudu ditonton juga sepakbola indonesia. analogine ya pada karo tegal sing dewek urus kang/yu. jaba dewek tetep maidoni bae, pandangane pesimis, ya tegal bakal kaya kiye bae. malah luwih rusak mengkone.

bal2an nang tegal luwih parah, tingkat karesidenan bae angel nemen dadi juara.. daripada ngomongi masalah indonesia, mending dimulai ndisit sekan tegal, piben carane tegal bisa nggawe pemain bal sing top markotop ....
kayak ORTEGA - (Orang Tegal Asli) - Nyengir
"Jadilah Role-Model yang baik untuk adik, anak, dan lingkungan sekitar."
Reply
bal2an indo keren jon....pemaine ora mung pemain inti karo cadangan tok...suportere baen melu...Guling-Guling
trus jaba dadi tuan rumah,pan maen nang ndi??Yos Sudarso???tegal bisa bubar...
Reply
(17-03-2010, 10:21 PM)Poci Wrote: bal2an indo keren jon....pemaine ora mung pemain inti karo cadangan tok...suportere baen melu...Guling-Guling
trus jaba dadi tuan rumah,pan maen nang ndi??Yos Sudarso???tegal bisa bubar...

man. utd pan teka maring jakarta bae wis di bom ndisitan, apa maning seluruh dunia teka maring indonesia, ngerti deweklah wong2 ngana pasti pada seneng Josss Mendem

bisa2 indonesia digawe ra keton ning peta dunia daning um tero ... Ngantuk
"Jadilah Role-Model yang baik untuk adik, anak, dan lingkungan sekitar."
Reply
iya kue si kadir payah nemen sung...qeqeqe

toli yos sudarso kon nampung wong sluruh dunia?
Reply
asem,,,pan maca wes mumet sit,,,
moga2 menang wes iindonesia ne,,,,
Nyengir
Bersenang-senang Dahulu....
Berbahagia Kemudian...
Reply


Forum Jump:


Users browsing this thread: