Thread Rating:
  • 0 Vote(s) - 0 Average
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Utopiaku Terhadap Pertanian di Indonesia
Mbukani arsip tulisan, jebule ana kiye wa. Tentang pertanian, tapi durung tak publish. Tak manjingna alam dan lingkungan bae wis wa. Sinau, nulis, dan share maning ^^

[Image: 20091022petani-di-sawah-kering1.jpg]

“Kalau jadi juragan pete itu nanti banyak saingannya malah untung pemilik pohonnya. Lagian yang jadi pemilik pete sekarang itu tidak seperti pemilik pete dulu. Kalau pete dulu yang punya pasrah dan percaya pada juragannya. Wes delok! Wani piro? Kalau pemilik pete sekarang sudah menghitung berapa tangkainya, berapa gerombolannya, berapa keris buahnya sampai detail dan ditambah dengan kalkulasi sedikit supaya nggak meleset. Jadi juragannya bingung soalnya taksirannya nggak pas, kadang cuma satu keris pete untung sepuluh perak, kadang rugi blas. Ini berlaku nggak cuma pete. Duren sampe kluwek sudah kena juga” kata saudaraku, seorang petani.

Opik (saudaraku yang lain) juga sekarang juga jadi juragan, pernah untung 17 juta. Pernah rugi sama sekali sampai modal 50 juta itu hampir kandas. Untung-untungan. Ada pula juragan yang sifatnya ijon, yaitu membeli tanaman yang belum berbuah selama beberapa kali panen. Ijon yang jahat pun nggak mesti untung. Soalnya kadang tanaman yang udah “di tag” ternyata nggak panen-panen atau bahkan tanamannya mati. Ealaaah, sudah jahat ketimpa tangga pula.

“Lha kalau nanam cabe atau semangka bagaimana? Bukannya menguntungkan?” tanyaku. “Wah, aku nggak duwe modal…” Jawab saudaraku yang lain. “Nggak pinjam bank?” tanyaku memancing. “Ya sebenernya mau tapi apa jaminannya? Wong aku nggak punya apa-apa”. Oh ya aku juga baru tahu dari cerita saudara, ternyata petani sekarang lebih berani meminjam ke bank ketimbang di masa beberapa tahun lalu. Sekarang mereka menjadikan apa saja yang ada jadi jaminan: bpkb motor, mobil, sertifikat tanah, sertifikat rumah untuk beroleh bantuan modal. Kalau bangkrut ya berarti ada proses penyitaan.

Terus aku baru tahu kalaupun desa itu dikasih bantuan bibit tanaman keras oleh pemerintah semacam buah, cengkeh, atau kayu sengon, distribusinya pun bingung. Ternyata bukan cuma bibit yang kadang-kadang ditilep oleh oknum, tapi juga sebagian masyarakat yang sifatnya tamak. Dia meminta bibit sebanyak-banyaknya tapi akhirnya bingung mau ditanam di mana. Lagian juga kalau ada bantuan bibit ya yang dapat juga yang punya tanah. Lha yang punya tanah jelaslah orang kaya-kaya. Nah yang buruh? Yang miskin? Di mana mereka mesti menanam?

Dialog untuk masalah di atas memiliki keyword: buruh, pemilik tanah, modal tanam, dan pemasaran. Kok ini masalah dari jaman dulu ampe sekarang nggak selesai-selesai sama pemerintah ya, apa mesti ini dicurigai sebagai konspirasi global untuk melemahkan petani Indonesia sehingga pemerintah tak kuasa lagi menanganinya yang terkait perdagangan global? dalam pemikiran utopis saya seharusnya pemerintah menjamin petani dan punya rumusan berpikir seperti ini:

Untuk buruh: “Wahai buruh tani, kami akan mendata kalian, kamilah yang akan menjamin kalian dibayar oleh pemilik tanah dengan perjanjian-perjanjian yang sesuai dengan undang-undang dan pancasila. Kalau kalian tidak dibayar dengan semestinya gugat kami agar membelamu dan menuntut majikanmu!”

Untuk pemilik tanah: “Wahai pemilik tanah, kami akan mendata lewat teknologi remote sensing tercanggih sehingga kami bisa membuat kebijakan daerah ini harus bertanam apa, daerah itu harus bertanam apa sehingga tidak ada perang dalam tanaman yang mengakibatkan surplus lalu harga anjlok. Kami yang akan menjamin semua harga stabil sehingga engkau tak perlu menjual di mana-mana”

Untuk modal tanam: “Wahai para petani? Kami pemerintah benar-benar menjamin modal untuk kalian dengan mekanisme yang mudah dan tanpa jaminan, dengan data-data akte, data tabular tahunan, dan data spasial kami percaya kalian petani. Silakan bercocok tanam sesuka kalian dengan serius, kami ada tim riset ahli pertanian, ahli cuaca, ahli hama, nanti mereka yang akan meriset bagaimana prediksi panen tahun ini. Kami yang akan menanggung kalau ternyata setelah kalian berusaha dengan keras panen kalian gagal karena kalian adalah tanggungan kami”

Untuk pemasaran: “Jualah di koperasi, kumpulkan semua dalam mekanisme koperasi sehingga segala sesuatunya tidak anjlog, kamilah yang bertanggung jawab atas harga koperasi, jika harga sedang anjlok maka kami subsidi, jika harga sedang tinggi maka itu bisa dimasukan sebagai hak Negara, jangan khawatir, kamilah yang akan mendata perdagangan di antara kalian wahai masyarakatku, agar tercipta balance dan harmoni perdagangan”

Untuk distribusi bibit tanaman keras: “Kami dan perangkat beserta mahasiswa serta LSM akan benar-benar melakukan survey berapa yang sebenarnya anda butuhkan, kalau seandainya BPN sudah menyediakan data tanah dan kepemilikan tanah yang sangat akurat maka kami tinggal menghitung berapa bibit yang kalian butuhkan, kalian juga bisa mengajukan berapa yang kalian mau, karena semua di sini, di Negara ini dialog, nanti kita bisa lakukan semacam rapat atau negosiasi. Masyarakat luas akan kami training GPS dan supaya tanaman yang ditanam kemudian kami petakan secara mandiri sehingga berapa produksinya akan terhitung, semua dihitung, semua dipertanggung jawabkan”

Malam ini utopiaku tidak akan menjadi kenyataan, esok mungkin, di masa yang akan datang entahlah. Aku hanya bingung siapa diriku, kenapa mesti memikirkan ini semua. Udud dulu saja wa Udud




M. Budi Mulyawan
Wong Talang
"Nang TCC Tempate Nulis, Medang, Ndopok, Seduluran..."
Reply
#2
cerdas !!!
masing2 institusi bergerak dan bekerja di bidangnya masing2, dalam tulisan tersebut mereka saling percaya, saling memudahkan urusan sesama saudara, yeah you'll never walk alone, kita bekerja sesama tim, kita mempercayakan urusan kepada ahlinya dan yakin akan teratasi sementara kita fokus di urusan yang menjadi tanggungjawab kita.

jiwa koperasi mulai disinggung2 di tulisan tersebut seolah-olah jiwa yang kini tertahan dibalik bangunan yang rongsok, nieng, hampir roboh coba dibangkitkan kembali, coba dikenalkan kembali dari ingatan lama kita yang telah usang ....

Josss
Our Long Journey Has Just Begun
Blog : Benihime
Reply
utopia kaya vokalis e band coklat yah Ngikik
sing pengen send KLEPON / klik SUWUN monggoh
sing pengen send SENDAL kudu ana alesan sing pas
Reply
memang utopia itu kayak candu, tapi apa jadinya sebuah negara tanpa utopia?
yang jelas kemunculan dan kemajuan negara beserta isi isinya dimulai dari utopia
utopia kamen latopia enak ndi ya wa Ngikik maning
Udud
"PENGALAMAN KUWE GURU PALING APIK, TAPI GURU SING APIK DURUNG TENTU BERPENGALAMAN"
Reply
hehehe, iya terimakasih atensine sedulur2. sing penting tah ngene-ngene, masalah kabul dan tidaknya tah terserah "sing ngecet mengkreng". Sing penting dewek wis usaha (minimal nulis karena harus menulis) apa sing bisa dilakoni. ya sharing kaya kiye lah. kamen Udud mbuapa...

Utopia = Ngimpi sing aneh, Laptopia = panganan sing radan aneh. memper lah.hahaha
"Nang TCC Tempate Nulis, Medang, Ndopok, Seduluran..."
Reply
hahaha,pada pada aneh emang enak ngger dipangan ya wa Ngikik maning
"PENGALAMAN KUWE GURU PALING APIK, TAPI GURU SING APIK DURUNG TENTU BERPENGALAMAN"
Reply
artikel yg sgt Josss

bahasa dan tulisannya sangat enak dbaca Fantastic

saya baru tahu ternyata d TCC banyak penulis berbakat Nyengir

NGOMONG LUWIH GAMPANG DARIPADA NGLAKONI
Reply
Waw, nice um, memang ketegasan pemerintah yg kita butuhkan

&jangan lupa ada mafia pupuk
Mbiyen dirabuk (dipupuk) kompos ya bisa,

saiki petani dibikin sangat tergantung pupuk sintetis
Wis larang, diluruh ya angel (adong pas musim tandur)
Reply
mangkane,,aja klalen mangan sedurunge mikir go solusi pupuk petani
"PENGALAMAN KUWE GURU PALING APIK, TAPI GURU SING APIK DURUNG TENTU BERPENGALAMAN"
Reply
mangan ndisit wa, ngelih. terima kasih sing wis pada nandur pari. kekekeke
"Nang TCC Tempate Nulis, Medang, Ndopok, Seduluran..."
Reply


Forum Jump:


Users browsing this thread: 1 Guest(s)