Reting Dopokan:
  • 0 meon suara - 0 Rata-rata
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Ledakan Jumlah Orang Kaya Baru di Indonesia
21-02-2012, 03:31 AM,
Posting: #1
Ledakan Jumlah Orang Kaya Baru di Indonesia
TEMPO.CO, Jakarta - Dua puluh tahun lalu tak pernah kita bayangkan ini semua terjadi. Konser artis mancanegara diserbu penonton meski tiketnya belasan juta rupiah. Ribuan orang antre panjang untuk mendapatkan BlackBerry dan iPhone terbaru. Restoran fine dining sering kekurangan tempat duduk. Pengusaha muda beramai-ramai menjadi anggota kelompok kebugaran atau klub bermain golf.

Lebih dari sekadar fenomena yang mengejutkan, satu hal yang kerap luput dari pengamatan: jumlah orang yang punya daya beli "lebih dari cukup" itu terus bertambah. Jika ukuran Bank Dunia yang dipakai, yakni bahwa kelompok ini adalah mereka yang pengeluaran per kapita per harinya US$ 2-20, maka terdapat sekurang-kurangnya 130 juta orang. Angka itu 56,5 persen dari total penduduk Indonesia. Padahal, tujuh tahun sebelumnya, jumlahnya hanya 37,7 persen. (Baca juga: Kelas Pendorong Mesin Pertumbuhan)

Berminggu-minggu Tempo melakukan liputan mendalam tentang ledakan kelas konsumen baru. Tempo memotret gaya hidup sekelompok orang yang menyerbu tiket konser musik Evanescence, Roxette, Stevie Wonder, atau Dream Theater dan menghabiskan separuh penghasilannya untuk mencicil mobil terbaru. Siapa saja mereka? Apa latar belakang hidupnya, juga--jika ada--afiliasi politik mereka? Apakah mereka berpeluang menggerakkan ekonomi?

Amrullah, 33 tahun, adalah salah contoh tumbuhnya kelas konsumen baru. Pria asal Jember, Jawa Timur, itu punya hobi main baru: main golf. Ia pernah menjajal sejumlah lapangan di Jakarta, sampai ke Bali, Bintan, atau Batam. Saking gemarnya bermain golf, tahun lalu dia mendaftar sebagai anggota di Lapangan Golf Matoa, Ciganjur, Jakarta Selatan. Untuk itu, ia membayar hampir Rp 100 juta. Harga itu belum termasuk biaya tahunan Rp 6 juta.

Kata Amrul, bermain golf di Ibu Kota kini tidak seleluasa dulu. Sekarang, lapangan harus dipesan jauh-jauh hari. "Sekarang, orang main golf bertambah banyak," ujarnya.

Sepuluh tahun lalu, kisah Amrul, ketika dia baru di tiba Jakarta, ia menumpang tidur selama satu tahun di kamar kos kakak kelasnya di Setiabudi, Jakarta Selatan. Saat itu, ia baru bekerja sebagai konsultan di perusahaan milik bekas dosennya. Dua tahun setelah itu, ia membeli rumah tipe 70 dengan luas tanah 90 meter persegi di Cibubur. Harganya Rp 250 juta. Dari Cibubur, sehari-hari ia naik kendaraan umum. Baru beberapa bulan kemudian, ia membeli mobil. Tahun berganti, mobilnya pun ganti kelas dari Toyota Yaris ke Honda CRV. Rumahnya juga "naik pangkat" ke townhouse di Cilandak, Jakarta Selatan, seharga Rp 1,5 miliar. Dia juga membeli waralaba makanan cepat saji, membuka kos-kosan 15 kamar senilai Rp 600 juta, serta ruko di Cinere Rp 750 juta. (Baca juga: Mereka yang Beranjak Kaya)

Orang seperti Amrul ini kini jumlahnya berlimpah di Indonesia. Mereka bolak-balik Jakarta-Singapura untuk nonton konser atau berpatungan membeli tas Hermes biar keren. (Selanjutnya >>)
Yang berlangsung di Indonesia saat ini adalah fase yang telah dilalui banyak negara. Pertumbuhan ekonomi Indonesia--dengan pendapatan per kapita US$ 3.000-an pada 2010--telah mengangkat jutaan orang dari jurang kemiskinan. Sekitar 70 persen ekonomi Indonesia ditopang oleh kelas konsumen baru ini. Kolom dosen ekonomi Universitas Indonesia Chatib Basri di majalah Tempo edisi ini menjelaskan secara jernih soal ini. Di negara seperti Jepang dan Korea Selatan, kelompok kelas menengah ini terbukti bisa mendorong pertumbuhan ekonomi. Di Indonesia, pemerintah mengabaikan peran kelompok ini.
Namun, tumbuhnya kelas konsumen baru ini tak semuanya positif. Dosen filsafat Universitas Indonesia Rocky Gerung menyebut mereka sebagai parasit kapitalisme. Kolomnya menjelaskan soal ini. Mereka mampu beli mobil Alphard, tapi selalu mengumpat saat macet. (Baca juga: Agar Tak Jadi Malin Kundang)
Meski kuat secara ekonomi, kelompok konsumen baru ini memiliki peran yang minim dalam politik. Kasus Prita Mulyasari, pasien yang digugat rumah sakit Omni Internasional, Tangerang, karena mengeluhkan layanan di jejaring sosial media adalah contohnya. Tiga tahun lalu dia dibela oleh jutaan orang lewat Twitter dan Facebook. Tapi, setelah itu persoalan dianggap selesai. "Saya merasa ditinggal," kata Prita. (Baca: Sumpah Serapah Tepublik Tweeps).
Dia akhirnya dihukum enam bulan penjara dengan masa percobaan satu tahun. Kini, dia sudah melayangkan peninjauan kembali. "Saya tak berani lagi mengeluh di sosial media," katanya. "Takut mempengaruhi keputusan."
Prita adalah contoh pembelaan kelas menengah dalam sebuah aksi yang disebut click activism--aksi yang nyaris tanpa risiko. Ya, begitulah potret kelas menengah Indonesia. Selengkapnya baca laporan utama Tempo, "Mereka yang Beranjak Kaya".
TIM TEMPO

sumber
Add Thank You
[+] 3 users say Thank You to laksonoadi for this post
21-02-2012, 03:13 PM,
Posting: #2
RE: Ledakan Jumlah Orang Kaya Baru di Indonesia
kiye emang kasus sing ngetrend ng indonesia. suwun postingane jon nono! Nyengir
jaba dudu dewek, sapa maning lhen sing pan mbangun Tegal??

Akhda Afif Rasyidi
Blog: http://akhdaafif.com
Email: mail[at]akhdaafif.com

Add Thank You
21-02-2012, 03:42 PM,
Posting: #3
RE: Ledakan Jumlah Orang Kaya Baru di Indonesia
iya min,,
sesuatu sing kepimen ngonong...
di satu sisi ana sing mangan angel
di sisi laen kayong guwang duit simple yaa...
Nyengir
saya suka siomay

Add Thank You
21-02-2012, 03:44 PM,
Posting: #4
RE: Ledakan Jumlah Orang Kaya Baru di Indonesia
hahha, guwang duit ya ora simpel juga jon.
nt durung sampe ng suatu masa, ketika duite nt akeh, dan nt pengen tuku akeh. godaane luwih berat daripada nt ora duwe apa-apa dan pengen tuku akeh, hahah
jaba dudu dewek, sapa maning lhen sing pan mbangun Tegal??

Akhda Afif Rasyidi
Blog: http://akhdaafif.com
Email: mail[at]akhdaafif.com

Add Thank You
[+] 1 user says Thank You to akhdaafif for this post
21-02-2012, 03:52 PM,
Posting: #5
RE: Ledakan Jumlah Orang Kaya Baru di Indonesia
kayonge bener kuweh...
masa2 itu belum datang..
haha

tapi angger emang lagi pas ana duit ana sing dipengin
ya kayong gampang metune..
saya suka siomay

Add Thank You
21-02-2012, 08:33 PM,
Posting: #6
RE: Ledakan Jumlah Orang Kaya Baru di Indonesia
Es Teh nice sharing..

btw masalah kie
Kutip:Kolom dosen ekonomi Universitas Indonesia Chatib Basri di majalah Tempo edisi ini menjelaskan secara jernih soal ini. Di negara seperti Jepang dan Korea Selatan, kelompok kelas menengah ini terbukti bisa mendorong pertumbuhan ekonomi. Di Indonesia, pemerintah mengabaikan peran kelompok ini.
Namun, tumbuhnya kelas konsumen baru ini tak semuanya positif. Dosen filsafat Universitas Indonesia Rocky Gerung menyebut mereka sebagai parasit kapitalisme. Kolomnya menjelaskan soal ini. Mereka mampu beli mobil Alphard, tapi selalu mengumpat saat macet

sing bner akeh positif apa negatife yah..?
wonk pinter akeh, tp kadang sing bener setitik..

Add Thank You
21-02-2012, 11:28 PM,
Posting: #7
RE: Ledakan Jumlah Orang Kaya Baru di Indonesia
fitrahe menungsaa biasane pengeluaran menyesuaikan penghasilan. Malah akeh juga sing ngluwihi sing akhire utang.

Sing hebat ya jaba gaya hidupe sanggup tdk berubah sementara saat lagi naik daun..
jaba dudu aku,ya koen oh sing mbangun tegal ^^

Add Thank You


Maring Forum:


Hubungi Kami | Forume Wong Tegal lan Sekitare | Menduwur | Maring Konten | Mobile Version | Sindikasi RSS